RSS

Makna al-Qur’an Kalam Allah

28 Jun

Firqah-Firqah Dalam Islam Tentang Kalam Allah

Pembahasan tentang Kalam Allah membutuhkan kepada penjabaran yang sangat luas, karena banyak sekali perbedaan pendapat tentang masalah ini. Bahkan, sebab Ilmu Tauhid atau Ilmu Aqidah dinamakan dengan Ilmu Kalam adalah karena materi yang banyak menyita konsentrasi mayoritas kaum teolog terdahulu dalam perselisihan mereka dalam masalah Kalam Allah ini. Dalam hal ini, perselisihan mereka terbagi kepada tiga firqah:

Satu: Ahlussunnah; mereka berpendapat bahwa Kalam Allah adalah salah satu sifat-Nya yang tetap dengan Dzat-Nya. Sifat Kalam Allah ini Azali (tanpa permulaan) sebagaimana Dzat-Nya Azali; tanpa permulaan. Maka itu, Kalam Allah yang Azali ini tidak menyerupai suatu apapun dari kalam makhluk; bukan huruf-huruf, bukan suara, dan bukan bahasa. Adapun kitab yang kita baca sekarang yang tersusun dari huruf-huruf hijâ-iyyah, dalam bahasa Arab, ditulis dengan tinta di atas lembaran-lembaran kertas, maka itu semua adalah ungkapan dari Kalam Allah yang Azali.

Dua: Kelompok Mu’tazilah; mereka berpendapat bahwa Allah tidak memiliki sifat Kalam, juga tidak memiliki sifat-sifat lainnya. Oleh karena keyakinan ini kaum Mu’tazilah dikenal pula dengan sebutan Mu’th-thilah; artinya kaum yang menafikan sifat-sifat Allah.

Tiga: Kaum Hasyawiyyah; mereka berpendapat bahwa Kalam Allah adalah berupa huruf-huruf, suara dan dalam bentuk bahasa. Kelompok ini terbagi kepada dua bagian; Pertama: Kaum Hasyawiyyah yang mengatakan bahwa segala makhluk ini dengan segala sifat-sifatnya adalah menyatu dengan Dzat Allah. Karena itu, menurut kelompok ini, segala sesuatu apapun dari setiap makhluk Allah ini adalah Qadim; tanpa permulaan, sebagaimana Allah Qadim. Kedua; Kaum Hasyawiyyah yang mengatakan bahwa yang Qadim adalah huruf-huruf dan suara. Artinya, dalam keyakinan kelompok ke dua ini bahwa segala apa yang tertulis dari pada huruf-huruf hijâ-iyyah dalam al-Qur’an persis merupakan Kalam Allah. Mereka memandang bahwa Allah mengeluarkan huruf-huruf, suara, dan bahasa.    

Dua kelompok terakhir disebut adalah kelompok sesat, dan yang benar adalah kelompok Ahlussunnah. Pendapat kaum Mu’tazilah bahwa Allah tidak memilki sifat Kalam, juga tidak memiliki sifat-sifat lainnya adalah bentuk pengingkaran mereka terhadap teks-teks syari’at, yang oleh karenanya mereka disebut sebagai kaum Mu’ath-thilah; kaum yang mengingkari sifat-sifat Allah. Sementara kelompok Hasyawiyyah yang merupakan sub sekte dari golongan Musyabbihah kesesatan mereka sangat jelas karena mereka adalah kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-makhluk-Nya.

 

Pembahasan Terminologis

Dalam faham Ahlussunnah ketika dikatakan: “al-Qur’an Kalam Allah”, maka dalam pemaknaannya terdapat dua pengertian (Lebih luas lihat Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniiyyah, hlm. 84-124);

Pertama: Al-Qur’an dalam pengertian lafazh-lafazh yang diturunkan (al-Lafzh al-Munazzal) yang ditulis dengan tinta di antara lebaran-lembaran kertas (al-Maktûb Bayn al-Mashâ-hif), yang dibaca dengan lisan (al-Maqrû’ Bi al-Lisân), dan dihapalkan di dalam hati (al-Mahfûzh Fî ash-Shudûr). Al-Qur’an dalam pengertian ini maka tentunya ia berupa bahasa Arab, tersusun dari huruf-huruf, serta berupa suara saat dibaca.

Kedua: Al-Qur’an dalam pengertian Kalâm Allâh ad-Dzâti.  Artinya dalam pengertian salah satu sifat Allah yang wajib kita yakini, yaitu sifat al-Kalâm. Sifat Kalam Allah ini, sebagaimana seluruh sifat-sifat Allah lainnya, tidak menyerupai makhluk-Nya. Sifat Kalam Allah tanpa permulaan dan tanpa penghabisan, serta tidak menyerupai sifat kalam yang ada pada makhluk. Sifat kalam pada makhluk berupa huruf-huruf, suara dan bahasa. Adapun Kalam Allah  bukan huruf, bukan suara dan bukan bahasa.

Al-Qur’an dalam pengertian pertama (al-Lafzh al-Munazzal) maka ia adalah makhluk; karena dalam makna ini ia dalam bentuk bahasa, dan tulisan-tulisan di atas lembaran. Dan al-Qur’an dalam pengertian yang kedua (al-Kalâm adz-Dzâti) maka jelas ia bukan makhluk. Namun demikian, al-Qur’an; baik dalam pengertian pertama maupun dalam pengertian kedua tetap disebut “Kalam Allah”. Kita tidak boleh mengatakan secara mutlak; “al-Qur’an Makhluk”, sebab pengertian al-Qur’an ada dua; dalam pengertian al-Lafzh al-Munazzal dan dalam pengertian al-Kalâm adz-Dzâti, sebagaimana penjelasan di atas.

Al-Qur’an dalam pengertian pertama adalah sebagai ungkapan dari Kalâm Allâh adz-Dzâti. Maka al-Qur’an yang berupa kitab yang kita baca dan kita hafalkan, tersusun dari huruf-huruf, dan dalam bentuk bahasa Arab, bukan sebagai Kalâm Allâh al-Dzâti (artinya bukan sebagai sifat Kalam Allah), melainkan kitab tersebut adalah ungkapan (‘Ibârah)  dari Kalâm Allâh al-Dzâti yang bukan suara, bukan huruf-huruf, dan bukan bahasa.

Sebagai pendekatan; apabila kita menuliskan kata “Allah” di papan tulis, maka hal itu bukan berarti bahwa “Allah” yang berupa tulisan itu adalah Tuhan yang kita sembah, melainkan kata atau tulisan “Allah” tersebut hanya sebagai ungkapan (‘Ibârah) bagi adanya Tuhan yang wajib kita sembah yang bernama “Allah”. Pendekatan lainnya; bila kita menuliskan kata “api” di papan tulis, bukan berati itulah hakekat api yang memiliki sifat panas dan yang bisa membakar, tetapi tulisan “api” tersebut hanya sebagai ungkapan bagi sesuatu yang memiliki sifat panas dan bisa membakar yang dinamakan dengan “api”. Demikian pula dengan “al-Qur’an”, ia disebut “Kalam Allah” bukan dalam pengertian bahwa itulah sifat Kalam Allah; berupa huruf-huruf, dan dalam bahasa Arab, tetapi al-Qur’an yang dalam bentuk huruf-huruf dan berbahasa Arab tersebut adalah sebagai ungkapan dari sifat Kalâm Allâh adz-Dzâti. Sebab bila sifat Kalam Allah (Kalâm Allâh adz-Dzâti) dalam bentuk huruf-huruf, suara, dan dalam bentuk bahasa maka berarti Allah serupa dengan makhluk-makhluk-Nya, ini jelas mustahil.

Dengan demikian harus dibedakan antara al-Lafzh al-Munazzal dan al-Kalâm adz-Dzâti. Sebab apa bila tidak dibedakan antara dua perkara ini, maka setiap orang yang mendengar bacaan al-Qur’an akan mendapatkan gelar “Kalîmullâh” sebagaimana Nabi Musa yang telah mendapat gelar “Kalîmullâh”. Tentu hal ini menjadi rancu dan tidak dapat diterima. Padahal, Nabi Musa mendapat gelar “Kalîmullâh” adalah karena beliau pernah mendengar al-Kalâm adz-Dzâti yang bukan berupa huruf, bukan suara dan bukan bahasa. Dan seandainya setiap orang yang mendengar bacaan al-Qur’an mendapat gelar “Kalîmullâh” seperti gelar Nabi Musa, maka berarti tidak ada keistimewaan sama sekali bagi Nabi Musa yang telah mendapatkan gelar “Kalîmullâh” tersebut.

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

 

وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ (التوبة: 6)

“Dan apa bila seseorang dari orang-orang musyrik meminta perlidungan darimu (wahai Muhammad) maka lindungilah ia hingga ia mendengar Kalam Allah”. (QS. at-Taubah: 6).

 

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad untuk memberikan perlidungan kepada seorang kafir musyrik yang diburu oleh kaumnya, jika memang orang musyrik ini meminta perlindungan darinya. Artinya, Orang musyrik ini diberi keamanan untuk hidup di kalangan orang-orang Islam hingga ia mendengar Kalam Allah. Setelah orang musyrik tersebut diberi keamanan dan mendengar Kalam Allah, namun ternyata ia tidak mau masuk Islam maka ia dikembalikan ke wilayah tempat tinggalnya. Dalam ayat ini, yang dimaksud bahwa orang musyrik tersebut “mendengar Kalam Allah” adalah mendengar bacaan kitab al-Qur’an yang berupa lafazh-lafazh dalam bentuk bahasa Arab (al-Lafzh al-Munazzal), bukan dalam pengertian mendengar al-Kalâm adz-Dzâti. Sebab jika yang dimaksud mendengar al-Kalâm adz-Dzâti maka berarti sama saja antara orang musyrik tersebut dengan Nabi Musa yang telah mendapatkan gelar “Kalîmullâh”. Dan bila demikian maka berarti orang musyrik tersebut juga mendaptkan gelar “Kalîmullâh”, persis seperti Nabi Musa. Tentunya hal ini tidak bisa dibenarkan.

Diantara dalil lainnya yang menguatkan bahwa al-Kalâm adz-Dzâti bukan berupa huruf-huruf, bukan suara, dan bukan bahasa adalah firman Allah:

 

وَهُوَ أَسْرَعُ الْحَاسِبِينَ (الأنعام: 62)

“dan Dia Allah yang menghisab paling cepat”. (QS. al-An’am: 62).

 

Pada hari kiamat kelak, Allah akan menghisab seluruh hamba-Nya dari bangsa manusia dan jin. Allah akan memperdengarkan Kalam-Nya kepada setiap orang dari mereka. Dan mereka akan memahami dari kalam Allah tersebut pertanyaan-pertanyaan tentang segala apa yang telah mereka kerjakan, segala apa yang mereka katakan, dan segala apa yang mereka yakini ketika mereka hidup di dunia. Rasulullah  bersabda:

 

مَا مِنْكُمْ مِنْ أحَدٍ إلاّ سَيُكَلِّمُهُ رَبُّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ تَرْجُمَان (رَوَاه أحْمَد والتّرمذي)

“Setiap orang akan Allah perdengarkan Kalam-Nya kepadanya (menghisabnya) pada hari kiamat, tidak ada penterjemah antara dia dengan Allah”. (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

 

Kelak di hari kiamat Allah akan menghisab seluruh hamba-Nya dalam waktu yang sangat singkat. Seandainya Allah menghisab mereka dengan suara, susunan huruf, dan dengan bahasa, maka Allah akan membutuhkan waktu beratus-ratus ribu tahun untuk menyelesaikan hisab tersebut, karena makhluk Allah sangat banyak. Termasuk di antara bangsa manusia adalah kaum Ya-juj dan Ma-juj, diriwayatkan dalam beberapa hadits bahwa mereka termasuk bangsa manusia dari keturunan Nabi Adam. Dalam hadits riwayat al-Bukhari disebutkan bahwa kaum terbesar yang kelak menghuni neraka adalah kaum Ya-juj dan Mu-juj ini. Tentang jumlah mereka disebutkan dalam hadits riwayat Ibn Hibban dan an-Nasa-i bahwa setiap orang dari mereka tidak akan mati kecuali setelah beranak-pinak hingga keturunannya yang ke seribu. (Lihat al-Ihsân Bi Tartîb Shahîh Ibn Hibbân, j. 1, hlm. 192, dan as-Sunan al-Kubrâ; Kitâb at-Tafsîr; Tafsîr Sûrah al-Anbiyâ’). Artinya, jumlah mereka jauh lebih besar di banding jumlah seluruh manusia yang bukan dari kaum Ya-juj dan Ma-juj. Mereka semua hidup di tempat yang diketahui oleh Allah dari bumi ini, dan antara kita dengan mereka dipisahkan oleh semacam “tembok besar” (as-sadd) yang dibangun oleh Dzul Qarnain dahulu. (Tentang kaum Ya-juj dan Ma-juj lebih lengkap lihat al-Kawkab al-Ajûj Fî Ahkâm al-Malâ-ikat Wa al-Jinn Wa asy-Syayâthîn Wa Ya-jûj Wa Ma-jûj dalam Majmû’ah Sab’ah Kutub Mufîdah karya as-Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqqaf).

Kemudian lagi bangsa jin yang sebagian mereka hidup hingga ribuan tahun, bahkan manusia sendiri, sebelum umat Nabi Muhammad, ada yang mencapai umurnya hingga 2000 tahun, ada yang berumur hingga 1000 tahun, dan ada pula yang hanya 100 tahun. Kelak mereka semua akan dihisab dalam berbagai perkara menyangkut kehidupan mereka di dunia, tidak hanya dalam urusan perkataan atau ucapan saja, tapi juga menyangkut segala perbuatan dan keyakinan-keyakinan mereka. Seandainya Kalam Allah berupa suara, huruf, dan bahasa maka dalam menghisab semua makhluk tersebut Allah akan membutuhkan kepada waktu yang sangat panjang. Karena dalam penggunaan huruf-huruf dan bahasa jelas membutuhkan kepada waktu. Huruf berganti huruf, kemudian kata menyusul kata, dan demekian seterusnya. Dan bila demikian maka maka berarti Allah bukan sebagai Asra’ al-Hâsibîn (Penghisab yang paling cepat), tapi sebaliknya; Abthâ’ al-Hasibîn (Penghisab yang paling lambat), tentunya hal ini mustahil bagi Allah.

Imam al-Mutakallim Ibn al-Mu’allim al-Qurasyi dalam kitab Najm al-Muhtadî Wa Rajm al-Mu’tadî menuliskan sebagai berikut:

 

“Syekh Imam Abu Ali al-Hasan ibn Atha’ pada tahun 481 H ketika ditanya sebuah permasalahan berkata: Sesungguhnya huruf-huruf itu dalam penggunaannya saling mendahuli satu atas lainnya. Pergantian saling mandahuli antara huruf seperti ini tidak dapat diterima oleh akal jika terjadi pada Allah yang maha Qadim. Sebab pengertian bahwa Allah maha Qadim adalah bahwa Dia ada tanpa permulaan, sementara pergantian huruf-huruf dan suara adalah sesuatu yang baharu (hâdits) yang memiliki permulaan; tidak Qadim. Kemudian seluruh sifat-sifat Allah itu Qadim; tanpa permulaan, termasuk sifat Kalam-Nya. Seandainya Kalam Allah tersebut berupa huruf-huruf dan suara maka berarti pada kalam-Nya tersebut terjadi pergantian antara satu huruf dengan lainnya, antara satu suara dengan suara lainnya, dan bila demikian maka Dia akan disebukan oleh perkara tersebut. Padahal Allah tidak disibukan oleh satu perkara atas perkara yang lain. Di hari kiamat Allah akan menghisab seluruh makhluk dalam hanya sesaat saja. Artinya, dalam waktu yang sangat singkat seluruh makhluk-makhluk tersebut akan memahami Kalam Allah dalam menghisab mereka. Seandainya Kalam Allah berupa huruf dan bahasa maka berarti sebelum selesai menghisab: “Wahai Ibrahim…”; Allah tidak mampu untuk menghisab: “Wahai Muhammad…”. Bila kejadian hisab seluruh makhluk seperti ini maka seluruh makhluk tersebut akan terkurung dalam waktu yang sangat panjang menunggu selesai hisab satu orang demi satu orang. Tentunya perkara ini adalah mustahil bagi Allah” (Lihat Izh-hâr al-‘Aqîdah as-Sunniyyah, hlm. 122-123 mengutip dari Najm al-Muhtadî).

Makna Firman Allah: “Kun Fayakun” (QS. Yasin: 82)

 

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

 

إِنَّمَآأَمْرُهُ إِذَآأَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ (يس: 82)

 

Makna ayat ini bukan berarti bahwa setiap Allah berkehendak untuk menciptakan sesuatu maka Dia berkata: “Kun”, dengan mengeluarkan huruf “Kaf” dan “Nun” yang artinya “Jadilah…!”, karena bila demikian maka berarti dalam setiap saat perbuatan-Nya tidak ada yang lain kecuali hanya berkata: “kun, kun, kun…” tanpa henti. Hal ini tentu perkara mustahil atas Allah. Karena sesungguhnya dalam waktu yang sesaat saja bagi kita Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu yang tidak terhitung jumlanya. Deburan ombak di lautan, rontoknya dedaunan, tetesan air hujan, tumbuhnya tunas-tunas, kelahiran bayi manusia, kelahiran anak hewan dari induknya, letusan gunung, sakitnya manusia dan kematiannya, serta berbagai peristiwa lainnya, semua itu adalah hal-hal yang telah dikehendaki Allah dan merupakan ciptaan-Nya. Semua perkara tersebut bagi kita terjadi dalam hitungan yang sangat singkat, bisa terjadi secara beruntun bahkan bersamaan.

Adapun sifat perbuatan Allah sendiri (Shifat al-Fi’l) tidak terikat oleh waktu. Allah menciptakan segala sesuatu, sifat perbuatan-Nya atau sifat menciptakan-Nya tersebut tidak boleh dikatakan “di masa lampau”, “di masa sekarang”, atau “di masa mendatang”, sebab perbuatan Allah itu Azali; artinya tidak terikat oleh waktu, perbuatan Allah tidak seperti perbuatan segala makhluk yang baharu. Perbuatan Allah tidak terikat oleh waktu, dan tidak dengan mempergunakan alat-alat. Benar, segala kejadian yang terjadi pada alam ini semuanya baharu, semuanya diciptakan (makhluk) oleh Allah, namun sifat perbuatan Allah atau sifat menciptakan Allah (Shifat al-Fi’l) terhadap segala sesuatu tersebut tidak boleh dikatakan baharu.

Kemudian dari pada itu, kata “Kun” adalah bahasa Arab yang merupakan ciptaan Allah (makhluk), sedangkan Allah adalah Pencipta (Khâliq) bagi segala bahasa. Maka bagaimana mungkin Allah sebagai al-Khâliq membutuhkan kepada ciptaan-Nya sendiri (makhluq)?! Seandainya Kalam Allah berupa bahasa, tersusun dari huruf-huruf, dan merupakan suara maka berarti sebelum Allah menciptakan bahasa Dia diam; tidak memiliki sifat Kalam, dan Allah baru kemudian memiliki sifat Kalam setelah Dia menciptakan bahasa-bahasa tersebut. Bila seperti ini maka berarti Allah baharu, persis seperti makhluk-Nya, karena Dia berubah dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Tentu hal semacam ini mustahil atas Allah.

Dengan demikian makna yang benar dari ayat dalam QS. Yasin: 82 diatas ialah bahwa kata “Kun” sebagai ungkapan bahwa Allah maha Kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa lelah, tanpa kesulitan, dan tanpa ada siapapun yang dapat menghalangi-Nya. Dengan kata lain, bahwa bagi Allah sangat mudah untuk menciptakan segala sesuatu yang Ia kehendaki, sesuatu tersebut dengan cepat akan terjadi, tanpa ada penundaan sedikitpun dari waktu yang Ia kehendakinya.

 

Wa Allâh A’lam Bi ash-Shawâb.

Wa al-Hamdu Lillâh Rabb al-‘Âlamîn

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: